Berita  

Pray for NTT Jangan Berhenti di Slogan, Kepedulian Harus Menjelma Aksi Nyata

JAKARTA,PortalJatim.id – Ungkapan “Pray for NTT” kembali menjadi bentuk solidaritas masyarakat Indonesia terhadap warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana alam. Namun, di tengah derasnya doa dan simpati yang beredar, muncul pertanyaan mendasar: apakah kepedulian cukup berhenti di media sosial? Pray for NTT Jangan Berhenti di Slogan, Kepedulian Harus Menjelma Aksi Nyata. Bagi masyarakat yang sedang berada dalam situasi sulit, doa tentu memiliki nilai moral dan kemanusiaan.

Tetapi ketika kebutuhan di lapangan menyangkut keselamatan, pangan, tempat tinggal, kesehatan, hingga pemulihan kehidupan, simpati semestinya tidak berhenti pada unggahan, slogan, atau tanda pagar. Gerakan Pray for NTT seharusnya menjadi pintu masuk menuju kepedulian yang lebih konkret. Berbagai elemen masyarakat dapat mengambil bagian melalui penggalangan dana, distribusi bantuan, maupun pendampingan terhadap warga terdampak yang membutuhkan.

“Total jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang. Sebaran korban tersebut teridentifikasi di Kabupaten Manggarai 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Ngada 1 orang, dan Ende 1 orang,” kata Berton, Sabtu (15/8/2026).

Sebab, solidaritas yang hanya ramai di dunia maya tetapi minim tindakan nyata berisiko berubah menjadi sekadar simbol. Ketika perhatian publik mulai surut, para korban tetap harus menghadapi dampak bencana dan berjuang memulihkan kehidupan mereka. Di sinilah pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, komunitas, serta masyarakat luas dituntut tidak sekadar menunjukkan empati, tetapi memastikan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

“Banyak lagi yang lain-lain (termasuk) rumah masyarakat. Tetapi, tentu saja hari ini adalah hari pertama terjadinya bencana, datanya akan berkembang terus,” kata Letjen TNI Suharyanto dikutip dari Breaking News Metro TV, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Transparansi juga menjadi bagian penting. Setiap penggalangan dan penyaluran bantuan publik harus dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai penderitaan korban bencana justru menjadi ruang bagi pihak pihak tertentu untuk mencari keuntungan atau sekadar membangun citra. Pray for NTT harus lebih dari sekadar kalimat. Doa harus berjalan beriringan dengan kepedulian, bantuan, dan tindakan nyata.

“Sampai dengan saat ini tim masih bekerja di lapangan dan kita juga berharap kita memanfaatkan golden hour pada 72 jam semenjak kejadian kita bisa menyelamatkan dan berupaya untuk bisa mengevaluasi seluruh korban yang terdampak adanya bencana,” jelasnya.

Basarnas juga mengerahkan berbagai sumber daya untuk mendukung proses penanganan bencana. Tim dari Kantor Pusat Basarnas disiapkan menuju wilayah terdampak. Helikopter Basarnas telah dikerahkan dan berada di Bandara Ngurah Rai. Selain itu, drone juga disiapkan untuk membantu pemantauan kondisi di lapangan. Masyarakat NTT tidak hanya membutuhkan ucapan simpati. Mereka membutuhkan dukungan agar mampu bangkit dari kondisi sulit yang dihadapi. Karena itu, solidaritas bukanlah siapa yang paling keras mengucapkan “Pray for NTT”, melainkan siapa yang benar-benar hadir ketika bantuan dan kepedulian itu dibutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *