Dugaan Arogansi Anggota DPRD Kabupaten Malang: Cermin Buruk Etika Wakil Rakyat

​MALANG,PilarJatim.id – Sikap tak terpuji kembali mencoreng citra dewan perwakilan rakyat. Dugaan Arogansi Anggota DPRD Kabupaten Malang: Cermin Buruk Etika Wakil Rakyat. Insiden adu argumen yang memanas antara massa warga dan anggota DPRD Kabupaten Malang, Aris Waskito, pada Jumat (11/9/2026) lalu menjadi sinyal merah keterpurukan etika dan profesionalisme wakil rakyat di daerah.

​Pertemuan yang seharusnya menjadi wadah penyampaian aspirasi rakyat justru terdistorsi oleh kontroversi dugaan perilaku yang tidak pantas. Meski Aris Waskito secara tegas membantah tudingan bahwa mulutnya berbau alkohol saat menemui warga, isu ini tetap menyulut amarah publik. Publik tidak hanya menyoroti kebenaran tudingan tersebut, tetapi juga mempertanyakan integritas, kesopanan, dan kesiapan mental seorang pejabat publik saat berhadapan dengan konstituennya.

“Tidak benar itu, banyak yang bilang matanya kok sembab, memang mata saya sipit dan posisi ngantuk juga kurang tidur,” ujar Aris, Minggu (13/9/2026).

Ketiadaan Empati dan Lunturnya Etika Dewan

​Fenomena anggota dewan yang terkesan arogan saat menghadapi benturan pendapat dengan warga adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat publik. Gedung parlemen didirikan atas uang rakyat, dan setiap dewan di dalamnya dibayar untuk mendengar, bukan untuk memamerkan keangkuhan atau memancing kegaduhan.

​Bantahan Tidak Cukup: Klarifikasi lisan tidak serta-merta menghapus persepsi buruk. Badan Kehormatan (BK) DPRD Kabupaten Malang tidak boleh tinggal diam dan harus segera turun tangan melakukan pemeriksaan independen demi menjaga martabat lembaga.

Ujian Sikap dan Etika Pejabat Publik

Saling adu argumen yang memanas memperlihatkan minimnya kontrol emosi serta krisis kepemimpinan dalam merespons ketegangan publik. ​Peringatan Keras untuk Dewan: Rakyat memilih wakilnya untuk mencari solusi, bukan untuk dipertontonkan sikap arogan yang jauh dari norma kesantunan. Jika Badan Kehormatan dan partai politik yang menaungi tidak memberi sanksi tegas atas dugaan pelanggaran etika ini, maka jangan salahkan jika kepercayaan masyarakat terhadap DPRD Kabupaten Malang merosot ke titik terendah.

​”Makanya saya langsung balik kanan ketika meredam pak Dur, karena semakin melenceng dan sepertinya percuma kalau ditanggapi,” jelas Aris dikonfirmasi awak media melalui WhatsApp.

​Terlepas dari polemik yang berkembang, peristiwa tersebut menjadi perhatian terhadap pentingnya etika komunikasi antara wakil rakyat dan masyarakat. ​Penyampaian aspirasi semestinya berlangsung dalam koridor dialog yang terbuka, tertib, dan saling menghormati. ​Di sisi lain, tuntutan warga agar rekaman CCTV dibuka dapat menjadi bagian penting untuk memperjelas duduk perkara.

​Jika rekaman tersebut tersedia dan relevan dengan peristiwa yang dipersoalkan, pemeriksaan secara objektif dinilai dapat membantu memisahkan fakta dari berbagai klaim yang berkembang di ruang publik. ​Pimpinan DPRD Kabupaten Malang juga diharapkan dapat memberikan ruang bagi proses klarifikasi secara proporsional.
​Langkah tersebut penting agar polemik tidak berkembang menjadi spekulasi yang berpotensi merugikan semua pihak maupun mencoreng lembaganya.

Desakan tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas. Sejumlah warga meminta agar persoalan tidak diselesaikan berdasarkan klaim sepihak, melainkan melalui bukti dan mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan. ​Di tengah situasi yang memanas, muncul pula tudingan dari warga yang mempertanyakan kondisi Aris Waskito saat berada di lokasi.

​Tudingan tersebut antara lain berkaitan dengan dugaan pengaruh minuman beralkohol berdasarkan klaim adanya aroma minuman keras saat berlangsung dialog. ​Aris Waskito membantah tudingan tersebut. Ia menyebut kondisi matanya yang terlihat sembab tidak berkaitan dengan pengaruh alkohol, melainkan karena bentuk mata dan kondisi kurang tidur terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *