BANYUWANGI,PortalJatim.id – Penumpukan kendaraan dan horor kemacetan yang melumpuhkan akses menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi Lumpuh: Solusi Seremonial Polda Jatim Tak Menyentuh Akar Masalah Ketapang. Banyuwangi, kembali menelanjangi buruknya mitigasi serta tata kelola lalu lintas aparat.
“Penanganan ini membutuhkan kerja bersama. Kepolisian fokus menjaga kelancaran dan keamanan arus lalu lintas di jalan, sementara optimalisasi pelayanan penyeberangan tentunya terus dikoordinasikan bersama Kementerian Perhubungan, ASDP, pemerintah daerah, Dinas Perhubungan, dan seluruh stakeholder terkait,” Ujar Kombes Pol Rahmat.
Setelah kekacauan terjadi dan pengguna jalan menjadi korban pembiaran, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jawa Timur baru sibuk melakukan respons reaktif. Langkah Polda Jatim yang mendadak menerjunkan 60 personel tambahan dan 30 unit sepeda motor untuk siaga 24 jam tampak tak lebih dari sekadar pemadam kebakaran—sebuah pencitraan taktis di tengah keterlambatan antisipasi.
“Kami menerapkan pola pengaturan empat shift selama 24 jam. Kehadiran petugas secara berkelanjutan ini untuk memastikan arus lalu lintas tetap bergerak sekaligus mengantisipasi berbagai kendala di sepanjang jalur antrean,” ujar Kombes Pol Rahmat Hakim, Minggu (6/9/2026).
Publik mempertanyakan di mana fungsi perencanaan dan analisis titik rawan yang seharusnya dimiliki kepolisian sebelum kemacetan parah melumpuhkan urat nadi transportasi tersebut. Pengiriman puluhan personel di tengah situasi yang sudah kacau menunjukkan betapa lemahnya koordinasi dan skenario pemetaan arus Lalu Lintas sejak awal. Alih alih menerapkan strategi pencegahan berbasis data yang presisi, aparat kepolisian
lagi-lagi mengandalkan pola lama.
“Penanganan ini membutuhkan kerja bersama. Kepolisian fokus menjaga kelancaran dan keamanan arus lalu lintas di jalan, sementara optimalisasi pelayanan penyeberangan tentunya terus dikoordinasikan bersama Kementerian Perhubungan, ASDP, pemerintah daerah, Dinas Perhubungan, dan seluruh stakeholder terkait,” kata Kombes Pol Rahmat.
Tunggu situasi macet total dan viral, baru kemudian melakukan mobilisasi pasukan secara dramatis di depan kamera wartawan. Pengerahan petugas siaga 24 jam tak akan pernah menyelesaikan akar masalah manajemen penyeberangan, tata kelola kantong parkir, serta regulasi arus kendaraan tidak dibenahi secara mendasar. Tanpa solusi sistematis, keberadaan puluhan aparat di lapangan hanya menjadi simbol kegagalan antisipasi yang dibungkus seragam dinas.
”Petugas di lapangan akan memberikan prioritas dan membantu pengawalan terhadap kendaraan darurat, khususnya ambulans maupun masyarakat yang membutuhkan penanganan medis segera,” jelasnya.
Kemacetan Jangan Jadikan Tradisi Seremoni
Selain melakukan pengaturan lalu lintas dan patroli, petugas di lapangan juga memberikan prioritas terhadap kendaraan yang membawa masyarakat dalam kondisi darurat, termasuk ambulans maupun warga yang membutuhkan penanganan medis segera.
”Kami mengimbau masyarakat tetap tertib dan bersabar dalam antrean, mengikuti arahan petugas, serta memastikan kondisi kendaraan dan pengemudi dalam keadaan prima. Petugas akan terus berada di lapangan untuk membantu masyarakat dan menjaga agar arus lalu lintas tetap berjalan,” pungkas Kombes Pol Rahmat.












