JAKARTA,PortalJatim.id – Skandal dugaan penipuan yang menyeret startup agritech asal Indonesia, eFishery, kembali menjadi sorotan.
PM Anwar Ibrahim Sebut Malaysia Jadi Korban Gibran Rp 881 M. Kasus ini bahkan disebut berdampak hingga ke Retirement Fund Inc (KWAP), salah satu dana pensiun Malaysia, yang diketahui ikut menanamkan modal dalam perusahaan tersebut.
Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim menyatakan KWAP ikut terdampak dalam kasus tersebut. Sorotan semakin tajam setelah muncul dugaan adanya manipulasi laporan keuangan eFishery, yang disebut menyebabkan kerugian besar bagi KWAP bersama sejumlah investor global yang tergabung dalam konsorsium.
Anwar menyebutkan, eFishery terbukti memanipulasi laporan keuangan sehingga KWAP bersama konsorsium investor internasional lainnya mengalami kerugian besar. Nilai investasi KWAP di perusahaan besutan Gibran Huzaifah tersebut mencapai hampir RM 200 juta atau sekitar Rp 881 miliar.
“Keputusan (investasi) tersebut melalui proses evaluasi dan tata kelola berdasarkan informasi yang tersedia saat itu, termasuk verifikasi laporan keuangan oleh auditor bersertifikat yang diakui secara internasional,” ujar Anwar dalam jawaban tertulis di Parlemen Malaysia, dikutip Jumat (17/7/2026).
Menurut Anwar, persoalan tersebut bukan sekadar kegagalan investasi biasa. Dugaan manipulasi laporan keuangan menjadi titik krusial karena menyangkut kredibilitas perusahaan, tata kelola investasi, sekaligus mekanisme pengawasan terhadap dana yang bersumber dari investor dan institusi keuangan.
Dana yang ditanam KWAP disebut mencapai hampir RM200 juta, angka yang menunjukkan betapa besarnya eksposur investasi terhadap perusahaan yang didirikan Gibran Huzaifah. Kasus ini pun memunculkan pertanyaan serius: bagaimana investasi bernilai sangat besar dapat masuk ke sebuah perusahaan apabila informasi keuangannya kemudian diduga bermasalah?
Jika dugaan manipulasi tersebut terbukti, persoalannya tidak berhenti pada kerugian finansial. Kasus ini berpotensi menjadi tamparan keras terhadap sistem due diligence, tata kelola perusahaan, transparansi laporan keuangan, serta pengawasan investasi yang dilakukan sebelum dana dalam jumlah besar digelontorkan. Lebih jauh, keterlibatan dana pensiun Malaysia membuat perkara ini memiliki dimensi yang lebih sensitif.
“Namun demikian, investasi eFishery merupakan penipuan yang telah direncanakan sebelumnya, dan terdapat manipulasi laporan keuangan oleh manajemen eFishery,” tegas Anwar.
Sebagai informasi, pada 2023 eFishery berhasil mengamankan pendanaan Seri D senilai US$200 juta. Dari total dana segar tersebut, KWAP tercatat menyuntikkan dana sebesar US$47,7 juta (sekitar RM194,35 juta). Dana pensiun pada dasarnya berkaitan dengan kepentingan finansial masyarakat, sehingga setiap dugaan kerugian investasi dalam jumlah besar tentu layak mendapatkan pemeriksaan dan pertanggungjawaban secara serius. Hampir RM200 juta bukan angka kecil.
Ketika dana sebesar itu masuk ke sebuah perusahaan dan kemudian muncul dugaan manipulasi laporan keuangan, publik berhak mengetahui secara terang: siapa yang melakukan pemeriksaan, bagaimana keputusan investasi dibuat, apa yang diketahui investor saat dana ditanamkan, dan sejauh mana mekanisme pengawasannya berjalan. Skandal eFishery akhirnya tidak hanya menjadi cerita tentang jatuhnya sebuah startup. Kasus ini menjadi ujian keras bagi transparansi, akuntabilitas, dan integritas tata kelola investasi lintas negara








